

Nabi Muhammad saw: Anak Yatim yang Disayang Allah
A. Masa Jahiliyah yang Gelap Gulita
Sebelum Nabi Muhammad saw dilahirkan, masyarakat Arab berada dalam masa yang dikenal sebagai zaman jahiliyah. Ini adalah masa kegelapan akal dan moral, di mana banyak orang menyembah berhala, mengubur anak perempuan hidup-hidup, dan hidup dalam kekerasan serta kesewenang-wenangan. Nilai-nilai kemanusiaan nyaris hilang, dan keadilan sulit ditemukan.
Namun di tengah kekacauan itu, masih ada segelintir orang yang menjaga kehormatan dan menjauhi kebiasaan buruk. Mereka inilah yang kelak menjadi bagian dari lingkaran awal pendukung dakwah Nabi Muhammad saw. Suasana zaman jahiliyah menjadi latar penting dalam memahami betapa terangnya cahaya yang dibawa oleh Nabi saw setelahnya.
B. Peristiwa Pasukan Gajah
Tahun kelahiran Nabi Muhammad saw dikenal sebagai Tahun Gajah, karena pada tahun itulah terjadi peristiwa besar: pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah datang dari Yaman untuk menghancurkan Ka’bah. Ia ingin menggantikan pusat ziarah umat dengan gereja besar yang dibangunnya.
Namun Allah menggagalkan rencana itu dengan mengirim burung-burung ababil yang menjatuhkan batu-batu panas kepada pasukan Abrahah. Peristiwa ini menjadi pertanda bahwa Ka’bah dijaga oleh Allah dan bahwa sesuatu yang besar sedang dipersiapkan—yaitu kelahiran Nabi terakhir, Muhammad saw.
C. Kelahiran Sang Nabi
Nabi Muhammad saw lahir di kota Mekah pada tanggal 12 Rabiul Awal, Tahun Gajah, sekitar tahun 571 Masehi. Beliau berasal dari keluarga Bani Hasyim, salah satu kabilah terhormat di suku Quraisy. Ayah beliau, Abdullah, telah wafat sebelum beliau dilahirkan, sehingga beliau lahir dalam keadaan yatim.
Setelah dilahirkan, beliau disusui dan diasuh oleh Halimah as-Sa’diyah dari Bani Sa’ad. Di lingkungan pedesaan yang alami, beliau tumbuh dengan sehat, sederhana, dan dekat dengan alam. Fase awal kehidupan ini memperkuat jiwa dan fisik beliau, sekaligus menjauhkan beliau dari kebiasaan buruk masyarakat kota saat itu.
D. Cobaan Yatim Piatu
Ibunda Nabi Muhammad saw, Aminah, wafat ketika beliau berusia enam tahun. Setelah kehilangan ayah sejak dalam kandungan, kini beliau juga kehilangan ibu dan menjadi yatim piatu. Sejak itu, beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, yang sangat mencintainya.
Setelah kakeknya wafat, pengasuhan berpindah ke pamannya, Abu Thalib. Walau hidup tanpa kasih sayang orang tua kandung, Nabi Muhammad saw tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tidak manja, dan tidak mudah mengeluh. Justru dari kesulitan itu, beliau belajar tangguh dan peduli terhadap penderitaan orang lain.
E. Akhlaq Mulia Sejak Belia
Sejak kecil, Nabi Muhammad saw menunjukkan akhlak yang mulia. Beliau dikenal jujur, dapat dipercaya, dan tidak pernah berkata dusta. Karena kejujuran dan integritasnya, masyarakat Mekah menjulukinya “Al-Amin”, yang artinya orang yang terpercaya. Julukan ini bukan sekadar gelar, tetapi cermin dari karakter beliau yang luhur.
Allah telah menjaga beliau dari berbagai keburukan masyarakat jahiliyah. Beliau tidak pernah terlibat dalam penyembahan berhala, pesta mabuk-mabukan, atau kebiasaan buruk lainnya. Sejak usia muda, beliau telah menjadi teladan, bahwa kemuliaan bukan berasal dari harta atau kedudukan, melainkan dari hati yang bersih dan akhlak yang terjaga.